SEJARAH SINGKAT
SURA-RAH-HADIAN (SURADE)
Oleh
: Hamdin Almurdani, S.Kom.I
Surade
adalah bagian Kecamatan dari Kabupaten Sukabumi, letaknya di wilayah bagian
selatan Kabupaten Sukabumi tepatnya di daerah pesisir Pantai Kutamara
(Minajaya). Masyarakat Surade merupakan bagian dari kelompok suku sunda yang
memiliki keragaman budaya tersendiri dalam menjalani budaya kehidupannya, dan
tidak terlepas dari benang merah sejarah para leluhur masa lalunya, kutipan Sejarah
Surade merupakan sarana upaya dalam mewariskan nila-nilai serta budaya dalam
makna cerita rakyat yang dapat bermanfaat bagi keturunan (Generasi) masyarakat
selanjutnya. Sejarah memberikan identitas pribadi maupun kolektif suatu
wilayah, dalam mentranspormasikan budaya dalam karya yang nyata.
Surade
dan sekitarnya mempunyai cerita rakyat dalam sejarah yang cukup heroic dan
bukti yang otentik. Ditemukannya icon-icon superioritas putra-putri Rd. Mas
Jagabaya Bpati Galuh Imbanagara (1731 – 1752 M) yang meninggalkan kampung
halamannya seperti Nyi Raden Raksanagara, Raden Mas Martanagara, Eyang Karang
Bolong, Raden Mas Suranagara, Eyang Wira
Santri Dalem dan Nyi Raden Mas Suradewi. Para pejuang penentang Kompeni Belanda
pada tahun 1750-an silam yang rela bertumpah darah serta kehilangan nyawanya
demi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa masyarakat
surade mempunyai peran dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah serta
membuktikan bahwa masyarakat surade masih mengalir darah pahlawan yang
nasionalis.
Terungkapnya
cerita tersebut berawal dari ditemukannya kampung tempat persinggahan bangsawan
Imbanagara, Rd. Mas Surabujangga, ketika pengejaran terjadi atas dirinya dan
kerabat-kerabatnya oleh Mataram dan kompeni Belanda sampai beliau wafat. Ditempat
itu pulalah yang menjadi saksi bisu atas peristiwa yang sangat tragis, yaitu
terjadinya perbedaan paradigma antara saudara sebangsanya sehingga memakan
korban yang cukup tidak sedikit. Tempat itulah yang menjadi bukti adanya Surade
yaitu kampung Sindanglaya ( Sejarah Surade : 2008).
Surade
berasal dari kata Sura-Rah-Hadian, yang artinya “Mengeluarkan Darah Demi
Kesucian”. Dalam konteks yang lain kalimat tersebut diartikan sebagai darah
manusia pemberani. Kata surade merupakan kata yang pernah diucapkan oleh Rd.
Suranagara pada saat beliau melepaskan jabatan sebagai gelar bangsawan.
Perayaan awal berdirinya surade dimulai dengan melaksanakan kegiatan upacara
Nyebor dan Batu Indung Lembur yang dilakukan pada tanggal 2 (Dua) bulan Syuro
tahun Wawu (Kalender Jawa), atau 2 Muharram 1197 (Kalender Hijriyyah). dan
perayaan lain pun dilakukan yaitu Kegiatan
Kalamangsa atau “Taya Tanagan
Pangawasa Wisesa” yang bertepatan pada hari Anggara 20 Wulan Kapat
Purniwata (Krisnopaksa), atau 4 Wulan Kalima Amarta (Suklapaksa),
Candrasangkala Nora Hasta Sad Rahayu pada 1680 tahun Saka, pada hari Selasa 5
Desember 1758 (Kalender Masehi).
Dalam
kitab kuno Hideung (Hitam) sejarah Surade juga ditulis dan menceritakan tentang
kekuatan Pangeran Sejati yang punya kekuatan , jiwa pejuang dan punya rasa
kasih sayang yang tinggi. wangsit dalam kitab kuno tersebut menceritakan
seorang Pangeran krabat Jagabaya dari Imbanagara yang sebelumnya pernah di
calonkan sebagai Raja Namun, justru dengan hal ersebut menimbulkan ketegangan
diantara keluarga kerajaan sehingga beliau terpaksa meninggalkan Inbanegara
demi menghindari perselisihan. Dalam kisah lain juga diceritakan bahwa Adipati
Jagabaya pemimpin kabupaten Galuh Imbanagara tahun 1731 – 1751 M dipaksa turun
oleh Adipati Kusumadinata atas desakan belanda yang berdampak timbulnya
sengketa antara Pangeran dan Bupati hingga Adipati Jagabaya memutuskan
memutuskan meninggalkan Imbanagara menuju Surade secara sembunyi-sembunyi.
Berikut ini adalak kutipan dari tulisan Kitab Kono Hideung, yang artinya :
“(Ddarah unggul tidak seberapa keluar, (karena pertanda)
kekuatan pangeran sejati, terceceri semua darah unggul, masuk kepada yang
penuhdengan kesaktian... bur.. titip. Kan sudah jelas keberanian... darah
bangsawan kerabat Jagabaya anak terlahir dari Imbanagara yang keluar bepergian
kesejatian sejati, maklum kelakuan seorang pangeran yang semula calon Ratu
malah menjadi pembakar penentang musuh..bur.. (di terjemahkan oleh Anis
Djatisunda, Budayawan Jawa Barat : Sejarah Surade, 2008).
Surade juga merupakan kampung dimana
bangsawan Imbanagara dan Rd. Mas Surabujangga bersinggah saat dalam perjalanan
pengejaraan kerajaan mataram dan kompeni belanda. Di surade pula yang menjadi
saksi terjadinya perselisihan antara dua suku didalamnya yang kerap kali ini
dikenal dengan sebutan Sindanglaya (Sindang yang berarti Singgah, dan Laya
artinya Meninggal). Ada sebuah nasehat yang tertulis di Kropak 632 di Kebuyutan
Ciburuy Bayongbong Garut, yang artinya :
”Bertanyalah kepada orang-orang Tua (Sesepuh), niscaya
tidak akan hina dan tersesat dari agama, ada dahulu ada sekarang, tidak ada
dahulu maka tidak akan ada sekarang, ada masa lalu maka ada masa sekarang, bila
tidak ada masa lalu maka tidak akan ada masa kini. Ada tunggul kayu ada batang,
tidak ada generasi dahulu maka tidak akan ada generasi sekarang. Ada jasa ada
anugrah, tidak ada jasa maka tidakn ada anugrah.
Nasehat tersebut dengan sengaja
ditulis untuk dipelajari dan dilakukan oleh masyarakat serta menjadikan
petunjuk dari Raja Sunda Prabu Guru Dharma Siksa tahun 1175 – 1297 M kepada
Prabu Raga Suci atau Sang Lumahing Taman. Nasehat tersebut dikeluarkan karena
masyarakat sunda banyak yang tidak selaras dengan adat istiadat yang seharusnya
di jalani dan dilakukan.
Sejarah singkat Surade ini di tulis
berdasarkan telaah buku, artikel serta dialog dengan para pining sepuh di wilayah
surade dan sekitarnya.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
0 komentar:
Posting Komentar