Sabtu, 20 Agustus 2016

Sejarah Surade (Sura-Rah-Hadian)



SEJARAH SINGKAT
SURA-RAH-HADIAN (SURADE)
Oleh : Hamdin Almurdani, S.Kom.I

Surade adalah bagian Kecamatan dari Kabupaten Sukabumi, letaknya di wilayah bagian selatan Kabupaten Sukabumi tepatnya di daerah pesisir Pantai Kutamara (Minajaya). Masyarakat Surade merupakan bagian dari kelompok suku sunda yang memiliki keragaman budaya tersendiri dalam menjalani budaya kehidupannya, dan tidak terlepas dari benang merah sejarah para leluhur masa lalunya, kutipan Sejarah Surade merupakan sarana upaya dalam mewariskan nila-nilai serta budaya dalam makna cerita rakyat yang dapat bermanfaat bagi keturunan (Generasi) masyarakat selanjutnya. Sejarah memberikan identitas pribadi maupun kolektif suatu wilayah, dalam mentranspormasikan budaya dalam karya yang nyata.
Surade dan sekitarnya mempunyai cerita rakyat dalam sejarah yang cukup heroic dan bukti yang otentik. Ditemukannya icon-icon superioritas putra-putri Rd. Mas Jagabaya Bpati Galuh Imbanagara (1731 – 1752 M) yang meninggalkan kampung halamannya seperti Nyi Raden Raksanagara, Raden Mas Martanagara, Eyang Karang Bolong, Raden Mas Suranagara, Eyang  Wira Santri Dalem dan Nyi Raden Mas Suradewi. Para pejuang penentang Kompeni Belanda pada tahun 1750-an silam yang rela bertumpah darah serta kehilangan nyawanya demi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa masyarakat surade mempunyai peran dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah serta membuktikan bahwa masyarakat surade masih mengalir darah pahlawan yang nasionalis.
Terungkapnya cerita tersebut berawal dari ditemukannya kampung tempat persinggahan bangsawan Imbanagara, Rd. Mas Surabujangga, ketika pengejaran terjadi atas dirinya dan kerabat-kerabatnya oleh Mataram dan kompeni Belanda sampai beliau wafat. Ditempat itu pulalah yang menjadi saksi bisu atas peristiwa yang sangat tragis, yaitu terjadinya perbedaan paradigma antara saudara sebangsanya sehingga memakan korban yang cukup tidak sedikit. Tempat itulah yang menjadi bukti adanya Surade yaitu kampung Sindanglaya ( Sejarah Surade : 2008).
Surade berasal dari kata Sura-Rah-Hadian, yang artinya “Mengeluarkan Darah Demi Kesucian”. Dalam konteks yang lain kalimat tersebut diartikan sebagai darah manusia pemberani. Kata surade merupakan kata yang pernah diucapkan oleh Rd. Suranagara pada saat beliau melepaskan jabatan sebagai gelar bangsawan. Perayaan awal berdirinya surade dimulai dengan melaksanakan kegiatan upacara Nyebor dan Batu Indung Lembur yang dilakukan pada tanggal 2 (Dua) bulan Syuro tahun Wawu (Kalender Jawa), atau 2 Muharram 1197 (Kalender Hijriyyah). dan perayaan lain pun dilakukan yaitu Kegiatan  Kalamangsa atau “Taya Tanagan Pangawasa Wisesa” yang bertepatan pada hari Anggara 20 Wulan Kapat Purniwata (Krisnopaksa), atau 4 Wulan Kalima Amarta (Suklapaksa), Candrasangkala Nora Hasta Sad Rahayu pada 1680 tahun Saka, pada hari Selasa 5 Desember 1758 (Kalender Masehi).
Dalam kitab kuno Hideung (Hitam) sejarah Surade juga ditulis dan menceritakan tentang kekuatan Pangeran Sejati yang punya kekuatan , jiwa pejuang dan punya rasa kasih sayang yang tinggi. wangsit dalam kitab kuno tersebut menceritakan seorang Pangeran krabat Jagabaya dari Imbanagara yang sebelumnya pernah di calonkan sebagai Raja Namun, justru dengan hal ersebut menimbulkan ketegangan diantara keluarga kerajaan sehingga beliau terpaksa meninggalkan Inbanegara demi menghindari perselisihan. Dalam kisah lain juga diceritakan bahwa Adipati Jagabaya pemimpin kabupaten Galuh Imbanagara tahun 1731 – 1751 M dipaksa turun oleh Adipati Kusumadinata atas desakan belanda yang berdampak timbulnya sengketa antara Pangeran dan Bupati hingga Adipati Jagabaya memutuskan memutuskan meninggalkan Imbanagara menuju Surade secara sembunyi-sembunyi. Berikut ini adalak kutipan dari tulisan Kitab Kono Hideung, yang artinya :
“(Ddarah unggul tidak seberapa keluar, (karena pertanda) kekuatan pangeran sejati, terceceri semua darah unggul, masuk kepada yang penuhdengan kesaktian... bur.. titip. Kan sudah jelas keberanian... darah bangsawan kerabat Jagabaya anak terlahir dari Imbanagara yang keluar bepergian kesejatian sejati, maklum kelakuan seorang pangeran yang semula calon Ratu malah menjadi pembakar penentang musuh..bur.. (di terjemahkan oleh Anis Djatisunda, Budayawan Jawa Barat : Sejarah Surade, 2008).
            Surade juga merupakan kampung dimana bangsawan Imbanagara dan Rd. Mas Surabujangga bersinggah saat dalam perjalanan pengejaraan kerajaan mataram dan kompeni belanda. Di surade pula yang menjadi saksi terjadinya perselisihan antara dua suku didalamnya yang kerap kali ini dikenal dengan sebutan Sindanglaya (Sindang yang berarti Singgah, dan Laya artinya Meninggal). Ada sebuah nasehat yang tertulis di Kropak 632 di Kebuyutan Ciburuy Bayongbong Garut, yang artinya :
”Bertanyalah kepada orang-orang Tua (Sesepuh), niscaya tidak akan hina dan tersesat dari agama, ada dahulu ada sekarang, tidak ada dahulu maka tidak akan ada sekarang, ada masa lalu maka ada masa sekarang, bila tidak ada masa lalu maka tidak akan ada masa kini. Ada tunggul kayu ada batang, tidak ada generasi dahulu maka tidak akan ada generasi sekarang. Ada jasa ada anugrah, tidak ada jasa maka tidakn ada anugrah.
            Nasehat tersebut dengan sengaja ditulis untuk dipelajari dan dilakukan oleh masyarakat serta menjadikan petunjuk dari Raja Sunda Prabu Guru Dharma Siksa tahun 1175 – 1297 M kepada Prabu Raga Suci atau Sang Lumahing Taman. Nasehat tersebut dikeluarkan karena masyarakat sunda banyak yang tidak selaras dengan adat istiadat yang seharusnya di jalani dan dilakukan.
            Sejarah singkat Surade ini di tulis berdasarkan telaah buku, artikel serta dialog dengan para pining sepuh di wilayah surade dan sekitarnya.
           


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer